Indonesia Harus Sadar Branding!

ARTICLE POSTED ON Oct 19, 2019 at 23:15 PM by FEM FARISSA KRISNA

Brand merupakan salah satu kunci yang menghasilkan persepsi seseorang tentang produk atau sebuah perusahaan. Brand itu sendiri merupakan kombinasi yang lengkap dari yang orang bayangkan, dengar dan rasakan ketika kita mendengar nama perusahaan atau produk. Maka dari itu brand harus melibatkan indera visual, auditori dan kinestetik menurut Tegar Prajaksa (2016). Hal itu berarti kita dapat menilai suatu brand melalui panca indera, stimulasi visual, rasa, bau sentuhan dan suara dan kita melakukan hal ini di alam bawah sadar kita. Brand juga yang menentukan apakah barang tersebut akan dibeli oleh pelanggan bahkan dapat mempengaruhi harga dari suatu barang atau jasa. Brand juga menjadi identitas yang ditunjukan pemilik bisnis kepada para pelanggan mereka.

Namun sebagai negara berkembang kita memiliki tantangan terbesar dalam ekonomi kita yang disebut “middle-income trap” yaitu terjebak di tengah dan tidak bisa naik menjadi negara maju. Sekarang tantangan bagi Indonesia sendiri adalah bergerak untuk menjadi negara maju atau kaya dalam waktu yang cepat. Dari sisi produksi tentu saja bergantung pada kemampuan bangsa ini untuk menghasilkan barang bernilai tinggi. Nah seperti yang sudah dikatakan oleh Tegar Prajaksa, branding lah yang bisa menentukan tinggi atau rendah nya suatu barang. Dan masyarakat ekonomi Asean 2015 ditentukan oleh brand dan branding ini. Contohnya, jika kita membeli kopi. Hampir semua warung di indonesia menjajakan kopi yang rasanya kurang lebih sama dengan kisaran harga Rp 5000- Rp 10,000. Namun kopi yang berlabel Starbucks berharga 7 kali lipat dari kopi yang dijual di warung-warung. Tentu saja hal ini dikarenakan adanya branding, walaupun harga starbucks yang mahal, namun starbucks memiliki brand equity yang dibentuk melalui brand building. Starbucks menambahkan value kepada kopi biasa dan menjadikan kopi tersebut bernilai tinggi.
Value tersebut bisa didapat dari rasa kopi dan pemilihan biji kopi yang premium sehingga menghasilkan rasa kopi yang enak. Dari segi design, tentu saja Starbucks memiliki ambience yang berbeda dari gerai coffee shop lainnya. Starbucks menjadikan dirinya sebagai rumah ke 3 setelah kantor dan rumah bagi para pekerja. Para pekerja biasanya akan menyempatkan diri untuk membeli kopi sebelum mulai bekerja atau mengunjungi starbucks untuk melaksanakan meeting.
Namun di mata generasi millennial, self expression benefit atau pencitraan diri dari starbucks sangatlah kuat. Contohnya banyak generasi milenial yang datang hanya untuk berfoto di gerai starbucks atau sekedar hanya narsis dan ingin dilihat orang lain. Tentu saja bukanlah menjadi suatu masalah, namun suatu keuntungan bagi gerai Starbucks itu sendiri yang dapat menaikan harga starbucks 7 sampai 10 kali lipat.
Contoh brand building lain yang baik adalah coca-cola. Walaupun dengan harga yang tidak terlampau mahal, coca-cola berhasil membangun brand image mereka sebagai happiness atau kebahagiaan. Dilihat dari iklan mereka yang selalu menampilkan wajah bahagia dan diilustrasikan dengan meminum coca cola akan memberikan kebahagiaan. Tentu saja coca-cola juga berpartisipasi dalam ajang olahraga terbesar, World cup. Walaupun kita tahu tidak ada korelasi yang sehat antara coca-cola dan olahraga, namun nyatanya seperti yang sudah dituliskan diatas bahwa coca-cola memberikan kesegaran dan kebahagiaan bagi konsumen.

Lalu jika branding bisa menjadi alat yang ampuh untuk menaikan nilai produk seperti contoh Starbucks, mengapa tidak seluruh kekayaan komoditas, produk kreatif di branding seperti Starbucks? Jika ada kesadaran dan kemampuan masyarakat untuk membranding beberapa potensi produk, maka pengaruhnya akan luar biasa bagi kemakmuran negeri ini. Menurut artikel, ada potensi lokal yang bagus untuk menjadi objek branding. Yaitu komoditi agrikultur : teh,kopi,beras,coklat. Kedua produk kreatif lokal Indonesia yaitu batik, ukiran jepara, rotan, patung Bali. Dan jika memungkinkan kuliner khas Indonesia mulai dari rendang, gudeg, rawon dan lain sebagainya.
Ketika masyarakat sudah sadar akan pentingnya branding, hal itu dapat menjadi kekuatan ekonomi Indonesia. Dan lebih baik lagi jika semua komoditas, produk kreatif dan kuliner tersebut merupakan hasil dari rakyat dan melibatkan tenaga kerja lokal yang jumlahnya besar. Yang berarti bahwa produk tersebut bisa dihasilkan dari industri lokal.

Tentu saja bukan hal yang mudah untuk membuat branding yang berhasil dan membuat masyarakat menjadi melek branding. Branding yang unik sudah mulai diciptakan di beberapa wilayah di Indonesia. Seperti contohnya Rawon Setan yang berada di Surabaya dan Nasi Kalong yang berada di Bandung. Sebenarnya tidak ada hubungan yang signifikan antara rawon dan setan namun ini merupakan salah satu usaha branding agar konsumen mau mencoba membeli produk makanan mereka. Sama hal nya seperti nasi kalong yang berada di Bandung. Tidak ada kaitannya antara kalong (kelelawar) dengan Nasi, dan mereka tidak menyediakan daging kelelawar pada masakan mereka. Namun karena mereka mulai beroperasi pada malam hari, maka dihubungkan dengan kelelawar yang beraktivitas pada malam hari. Tentu saja branding yang out of the box tersebut merupakan langkah awal yang baik dan merek yang unik dapat membuat konsumen penasaran dan merupakan salah satu keuntungan dari perusahaan jika berhasil menanamkan brand awareness di hati konsumen.

Di artikel sebelumnya, kami sudah menjelaskan bagaimana tips untuk membangun branding yang efektif. Tentu saja dengan didukung oleh pemilihan desain yang baik, proses branding anda juga akan menjadi maksimal. Tidak usah ragu-ragu lagi, kami, Mutualist Creatives siap untuk membantu dan mendukung branding perusahaan anda secara kreatif dan unik. Dan ingat untuk menciptakan produk bernilai lebih tak harus memproduksi sesuatu yang canggih. Seperti kopi yang di branding seperti Starbucks tidak kalah nilai dengan Apple dan ayam goreng kalau di branding seperti Mc Donald tidak kalah dari Toyota.

Indonesia Harus Sadar Branding!

ARTICLE POSTED ON Oct 19, 2019 at 23:15 PM by FEM FARISSA KRISNA

Brand merupakan salah satu kunci yang menghasilkan persepsi seseorang tentang produk atau sebuah perusahaan. Brand itu sendiri merupakan kombinasi yang lengkap dari yang orang bayangkan, dengar dan rasakan ketika kita mendengar nama perusahaan atau produk. Maka dari itu brand harus melibatkan indera visual, auditori dan kinestetik menurut Tegar Prajaksa (2016). Hal itu berarti kita dapat menilai suatu brand melalui panca indera, stimulasi visual, rasa, bau sentuhan dan suara dan kita melakukan hal ini di alam bawah sadar kita. Brand juga yang menentukan apakah barang tersebut akan dibeli oleh pelanggan bahkan dapat mempengaruhi harga dari suatu barang atau jasa. Brand juga menjadi identitas yang ditunjukan pemilik bisnis kepada para pelanggan mereka.

Namun sebagai negara berkembang kita memiliki tantangan terbesar dalam ekonomi kita yang disebut “middle-income trap” yaitu terjebak di tengah dan tidak bisa naik menjadi negara maju. Sekarang tantangan bagi Indonesia sendiri adalah bergerak untuk menjadi negara maju atau kaya dalam waktu yang cepat. Dari sisi produksi tentu saja bergantung pada kemampuan bangsa ini untuk menghasilkan barang bernilai tinggi. Nah seperti yang sudah dikatakan oleh Tegar Prajaksa, branding lah yang bisa menentukan tinggi atau rendah nya suatu barang. Dan masyarakat ekonomi Asean 2015 ditentukan oleh brand dan branding ini. Contohnya, jika kita membeli kopi. Hampir semua warung di indonesia menjajakan kopi yang rasanya kurang lebih sama dengan kisaran harga Rp 5000- Rp 10,000. Namun kopi yang berlabel Starbucks berharga 7 kali lipat dari kopi yang dijual di warung-warung. Tentu saja hal ini dikarenakan adanya branding, walaupun harga starbucks yang mahal, namun starbucks memiliki brand equity yang dibentuk melalui brand building. Starbucks menambahkan value kepada kopi biasa dan menjadikan kopi tersebut bernilai tinggi.
Value tersebut bisa didapat dari rasa kopi dan pemilihan biji kopi yang premium sehingga menghasilkan rasa kopi yang enak. Dari segi design, tentu saja Starbucks memiliki ambience yang berbeda dari gerai coffee shop lainnya. Starbucks menjadikan dirinya sebagai rumah ke 3 setelah kantor dan rumah bagi para pekerja. Para pekerja biasanya akan menyempatkan diri untuk membeli kopi sebelum mulai bekerja atau mengunjungi starbucks untuk melaksanakan meeting.
Namun di mata generasi millennial, self expression benefit atau pencitraan diri dari starbucks sangatlah kuat. Contohnya banyak generasi milenial yang datang hanya untuk berfoto di gerai starbucks atau sekedar hanya narsis dan ingin dilihat orang lain. Tentu saja bukanlah menjadi suatu masalah, namun suatu keuntungan bagi gerai Starbucks itu sendiri yang dapat menaikan harga starbucks 7 sampai 10 kali lipat.
Contoh brand building lain yang baik adalah coca-cola. Walaupun dengan harga yang tidak terlampau mahal, coca-cola berhasil membangun brand image mereka sebagai happiness atau kebahagiaan. Dilihat dari iklan mereka yang selalu menampilkan wajah bahagia dan diilustrasikan dengan meminum coca cola akan memberikan kebahagiaan. Tentu saja coca-cola juga berpartisipasi dalam ajang olahraga terbesar, World cup. Walaupun kita tahu tidak ada korelasi yang sehat antara coca-cola dan olahraga, namun nyatanya seperti yang sudah dituliskan diatas bahwa coca-cola memberikan kesegaran dan kebahagiaan bagi konsumen.

Lalu jika branding bisa menjadi alat yang ampuh untuk menaikan nilai produk seperti contoh Starbucks, mengapa tidak seluruh kekayaan komoditas, produk kreatif di branding seperti Starbucks? Jika ada kesadaran dan kemampuan masyarakat untuk membranding beberapa potensi produk, maka pengaruhnya akan luar biasa bagi kemakmuran negeri ini. Menurut artikel, ada potensi lokal yang bagus untuk menjadi objek branding. Yaitu komoditi agrikultur : teh,kopi,beras,coklat. Kedua produk kreatif lokal Indonesia yaitu batik, ukiran jepara, rotan, patung Bali. Dan jika memungkinkan kuliner khas Indonesia mulai dari rendang, gudeg, rawon dan lain sebagainya.
Ketika masyarakat sudah sadar akan pentingnya branding, hal itu dapat menjadi kekuatan ekonomi Indonesia. Dan lebih baik lagi jika semua komoditas, produk kreatif dan kuliner tersebut merupakan hasil dari rakyat dan melibatkan tenaga kerja lokal yang jumlahnya besar. Yang berarti bahwa produk tersebut bisa dihasilkan dari industri lokal.

Tentu saja bukan hal yang mudah untuk membuat branding yang berhasil dan membuat masyarakat menjadi melek branding. Branding yang unik sudah mulai diciptakan di beberapa wilayah di Indonesia. Seperti contohnya Rawon Setan yang berada di Surabaya dan Nasi Kalong yang berada di Bandung. Sebenarnya tidak ada hubungan yang signifikan antara rawon dan setan namun ini merupakan salah satu usaha branding agar konsumen mau mencoba membeli produk makanan mereka. Sama hal nya seperti nasi kalong yang berada di Bandung. Tidak ada kaitannya antara kalong (kelelawar) dengan Nasi, dan mereka tidak menyediakan daging kelelawar pada masakan mereka. Namun karena mereka mulai beroperasi pada malam hari, maka dihubungkan dengan kelelawar yang beraktivitas pada malam hari. Tentu saja branding yang out of the box tersebut merupakan langkah awal yang baik dan merek yang unik dapat membuat konsumen penasaran dan merupakan salah satu keuntungan dari perusahaan jika berhasil menanamkan brand awareness di hati konsumen.

Di artikel sebelumnya, kami sudah menjelaskan bagaimana tips untuk membangun branding yang efektif. Tentu saja dengan didukung oleh pemilihan desain yang baik, proses branding anda juga akan menjadi maksimal. Tidak usah ragu-ragu lagi, kami, Mutualist Creatives siap untuk membantu dan mendukung branding perusahaan anda secara kreatif dan unik. Dan ingat untuk menciptakan produk bernilai lebih tak harus memproduksi sesuatu yang canggih. Seperti kopi yang di branding seperti Starbucks tidak kalah nilai dengan Apple dan ayam goreng kalau di branding seperti Mc Donald tidak kalah dari Toyota.

FEM FARISSA KRISNA

or just say Hello!

"A lion does not concern himself with the opinion of sheep." — Tywin Lannister

Read More

Read More

Stay in Touch

Stay in Touch